Kamis, 27 Agustus 2015

Catatan 15 Tahun Yang Lalu

Aku melihat dia di cermin, kecil, tanpa senyuman, dan tatapan kosong. Aku bertanya, apakah dia akan terus berada di ruangan ini? Kamar yang luas, ada ranjang besar membentang horizontal di belakangku, jendela besar kesukaanku berada tepat di samping ranjang yang menempel dinding, meja belajar dipojok kiri ruangan, lalu cermin dari lemari besar di depanku, pintu diujung pojok kanan kamar, sisanya haya space kosong di ruang kamarku.
Aku menatap wajah di cermin itu, rambut merah panjang, matanya hitam dan bulat, orang-orang bilang suka pipi tembemnya, tubuhnya mungilnya berbalut seragam merah-putih. Kulihat sedikit demi sedikit bibirnya merekah, dia tersenyum lebar tapi matanya tak berhenti mengeluarkan air mata, tatapannya sayu, hampa, kosong.. Ruangan ini begitu besar tapi dia sendiri.. Dia bisa mendapatkan apapun tapi hanya bisa berbagi dengan sepi.
Kusentuh tangannya, mencoba memberi kekuatan, aku ingin mendekapnya dan mengatakan bahwa dia tak sendiri, ada aku disini. Tapi saat kudekatkan diriku ke cermin, aku tak bisa meraihnya, aku tak bisa memeluknya. Aku melihat dia menangis sejadi-jadinya, aku ingin menghapus air matanya tapi tanganku tak bisa meraih wajahnya.

Hey kamu yang ada di hadapanku, kuatlah. Semuanya akan baik-baik saja.
Hey kamu yang ada dadalam cermin, aku ingin melihatmu tersenyum
hey kamu, lihatlah aku yang masih berdiri tegak di hadapanmu
hey kamu, hapuslah air matamu
hey kamu, katakan apa yang bisa kulakukan untukmu
hey kamu, ayo kita melangkah

Air mata tak menyelesaikan masalah, air mata tak merubah apapun!!! apapun yang kau rasakan teruslah melangkah, apapun yang terjadi teruslah menatap kedepan.
Ulurkan tanganmu, ayo berdiri dan melangkah.

catatan vi kecil tahun 2000

Tidak ada komentar:

Posting Komentar